Benalu
Tuan...
Apakah rasa lapar berarti sesuatu bagimu?
Ketika cacing perut merintih lalu tak sabar dan mulai berteriak memaki senyatanya toh mereka tak bisa dikenyangkan dengan sekedar angka yang tuan sampaikan. Lapar itu nyata tuan, pedih juga perihnya.
Rasanya memang menyakitkan, tetapi kami toh tetap bertahan bukan? Ya, itu karena kami selalu berhasil membujuk agar sang lapar tak membunuh dan memata-gelapkan kami. Betul, walau kami berteman karib dengan sang lapar, bukan berarti kami benar-benar menyukainya. Kami membencinya. Ya, sungguh-sungguh membencinya. Seperti juga kami membenci tuan-tuan yang menguras habis setiap sawah dan setiap kebun kami.
Mungkin bila tuan siuman dan mengembalikan kesuburan sawah dan kebun kami, kami akan berbaik hati sedikit memafkan tuan. Memaafkan dan mungkin sedikit janji untuk tidak merampok tuan, setiap kali ada sekecil apapun kesempatan itu. Ah, sebenarnya kami menunggu saat itu tuan. Saat dimana lapar kami tak tertahankan sementara bayi-bayi kami menjerit kehabisan susu merisaukan kami. Bisa apa kami, selain masuk kerumah-rumah tuan dan mengambil apapun yang bisa kami makan dan sekedar bayi kami terhentikan tangisnya.
Tuan bilang kami pemalas. Ah, bukan. Kami bukan pemalas tuan, kamilah yang bangun beserta terbitnya fajar dan mulai membangun dari mulai Borobudur sampai Monas. Kami jugalah yang membangun dan menggerakan negeri dari ketertiduran dan mengisinya dengan mata binar menatap esok.
Tuanlah yang pemalas dan merampok hasil kerja kami, kami tebang belantara dan bangun kampung, tetapi tuanlah yang kemudian menggusur kami dan membangun swalayan. Kamilah yang membendung laut dan membongkar tanah sementara tuan-tuanlah yang kemudian menyemburkan lumpur diwajah, pekarangan dan rumah kami. Dan kami hanya bisa mengadu pada patung yang bisu.
Tuan...
Apakah air mata berarti sesuatu bagimu? Ketika kebodohan dan kemiskinan memang di ciptakan dan dilestarikan oleh kalian untuk menghidupi simpanan-simpanan kalian. Pernahkah Tuan rasakan pusingnya ketika istri menatap sayu sementara beras di daringan tak bersisa dan satu-satunya pilihan yang tersedia untuk hidup hanyalah mencuri?
Terbayangkah di angan kalian gang-gang becek yang menjebak kami dan membuat tak bisa beranjak. Ah, sebenarnya kami bodoh bila berharap kalian rasakan yang kami rasakan. Kalianlah yang hidup membenalu dari kerja keras kami, dan kalian-kalian jugalah yang menjadi lintah serta menyedot habis darah kami.