Wednesday, July 25, 2007

Mencetak Gurun..


ribuan rebah
(Setiap tahun 2,8 juta hektar hutan musnah di Indonesia. Dan yang menikmati keuntungan dari kayu rebah itu, selalu bukanlah para pekerja keras seperti mereka)


maju tak gentar
(Untuk 10 ribu hektar Hutan Tanaman Industri (HTI) dibutuhkan minimal 50 alat berat, 200 truk, serta ratusan tenaga manusia. Ya betul, rimba menjadi pasar malam yang bising)

berangkat pulang
(Indah Kiat dan RAPP, dua pabrik kertas di Riau berkapasitas 4 juta ton pertahun. Equivalen dengan 13-15 juta meter kayu. Artinya, beberapa tahun kedepan Riau akan menjadi padang gurun)

bertumpuk dan bertumpuk
(Pabrik kertas seharusnya memenuhi kebutuhan bahan bakunya dari Hutan Tanaman Industri (HTI). Sayangnya, yang terjadi di Riau, mereka mengambilnya begitu saja dari hutan alam)

sepi dan sendiri
(Setelah kayu ditebang proses selanjutnya, tetapi seringkali setelah kayu ditebang. Lahan dibiarkan begitu saja menjadi lahan kritis)

gurunpun tercipta

(foto-foto dokumentasi walhi Riau)

Tuesday, July 24, 2007

Mengenang Jaman Maling Berpesta

Waktu itu 2 Juli 1997 dan bermula dari Thailand. Thanong Bidaya, menteri keuangan negeri gajah putih, nyaris tak bisa memejamkan mata. Benaknya gelisah dan konsentrasinya tercurah hanya pada pergerakan di pasar uang. Betul, saat itu keadaan memang genting. Bath menjadi bulan-bulan spekulan. Menjelang siang akhirnya Thanong menyerah pada pasar. Ya, Thanong terpaksa melepas Bath pada mekanisme pasar.

Laiknya bendungan yang hanya bocor dan akhirnya terjebol juga, dari Thailand, krisis kemudian menjalar keseluruh Asia Tenggara dan menghancur leburkan bagunan ekonomi yang diyakini tak bakalan goyang oleh krisis. Bola salju itu menggelinding terus tak terhentikan.

Peristiwa itu memang telah lewat sepuluh tahun. Tetapi, dampak merusaknya, seperti baru kemarin kita semua merasainya. Disini, di Indonesia awalnya badai hanyalah berupa angin sepoi-sepoi. Semua tenang, aman terkendali, semua percaya diri. Bahkan
Bapak- masih dengan senyumnya yang khas berkata jumawa, "Badai Pasti Berlalu".

Sayangnya angin sepoi-sepoi itu terus menambah kecepatannya hingga akhirnya menjadi badai besar yang merusakan semua sendi-sendi.
Ya, terlambat sudah. Kerusakan parah langsung timbul. Sekitar 20 juta orang tiba-tiba menjadi penganggur, rupiah terjun bebas dari Rp 2400 perdollar menjadi Rp 17 ribu di awal Januari 1998. Suku bunga melejit sampai 70 persen. Ratusan perusahaan gulung tukar dan utang luar negeri tiba-tiba menjadi segede gajah bengkak.

Ah,
Bapak lah justru berkhianat waktu itu. Wirtscaftsblatt koran bisnis Austria dalam edisi 3 Agustus 1998 melansir, Bapak memindahkan miliaran dollar miliknya ke sejumlah bank Austria sesaat sebelum di dongkel 21 Mei 1998. Wirtscaftsblatt tak lebih hanya menegaskan. Sebelumnya Forbess dan Barrons telah menaksir harta Bapak mencapai US$ 16 milliar (kurs Rp 2500) atau setara dengan Rp 40 triliun rupiah. Langkah Bapak inilah yang kemudian di ikuti semua orang kaya bermasalah di negeri ini. Setidaknya US$ 20 miliar modal kabur keluar negeri, menyusul suasana chaos di bulan Mei 1998. Di Jakarta 4.940 gedung rusak, dibakar atau dijarah. Sementara, ribuan lagi luluh lantak di Solo dan Medan.

Cukupkan dengan luka berdarah-darah saja?
Tidak!! Luka berdarah itu hanya menempatkan kita pada tubir jurang. Logika ekonomi memaksa kita harus mengamini kebenarannya. Ah, selalu begitu memang. Hutang luar negeri, bank yang bangkrut, nilai tukar yang lemah dan semua itu menurut mereka adalah masalah. Ya, hanya masalah. Dewa-dewa ekomomilah yang kemudian menjadi panglima. Strategi dirumuskan, rencana di bentangkan dan harapan ditebarkan. Bank-bank bangkrut kemudian di suapi dengan BLBI dan Obligasi Rekap. Totalnya Rp 650 triliun plus bunga pertahunnya yang Rp 70 triliun yang harus ditanggung sampai sekarang.

Inilah jamannya para maling berpesta. Betul!! Dari BLBI saja yang "hanya" Rp 144,5 triliun kenduren agung para maling ini dimulai. Bagaimana tidak, mengutip audit BPK plus audit investigasi BPKP dari yang digelontorkan BI, telah terjadi penyimpangan prosedur pengucuran oleh pejabat BI sebanyak Rp 138,442 atau 95,7 persen dari total BLBI. Itu baru penyelewengan prosedur pengucuran. Bagaimana penggunaannya oleh bank penerima? Idem dito, masih dari audit yang sama di simpulkan Rp 80,4 triliun disalahgunakan. Kok disalah gunakan? Ya, BLBI awalnya didesain untuk menalangi simpanan dana pihak ke 3 yang nyangkut di bank-bank nasional itu. Yups betul, jadi BLBI adalah inisiatif pemerintah melalui BI untuk nalangi dulu kewajiban bank-bank tersebut. Tetapi apa lacur? Uang talangan yang mestinya di gunakan untuk menutup kewajiban bank pada nasabah, oleh pemilik bank dipakai seenak udel-nya.

Siapa maling-maling yang "makan" paling banyak dalam BLBI ini. Dua nama paling menonjoll, Sjamsul Nursalim bos Grup Gajah Tunggal dan Sudono Salim big boss Salim Group. Sudono "maling" Salim ini menerima tak kurang dari Rp 52,27 triliun, Sjamsul "maling" Nursalim menerima Rp 27,4 triliun, Bob Hasan Rp 5,3 triliun, Sudwikatmono Rp 1,9 triliun. Angka yang dahsyat memang, mengingat kondisi waktu itu, rakyat kembang-kempis menebus harga beras di warung yang hanya dua ribu perak perkilonya.

Apakah pinjaman uang negara (yang notabene uang kita juga) pada para "maling" itu beres? Jauh panggang dari api. Mari salah satu kita runut jejaknya. Untuk membayar utangnya, Salim menyerahkan asetnya pada BPPN, saat itu asetnya berupa 108 perusaham dibawah Holdiko yang di klaim nilainya mencapai Rp 52,6 triliun. Betul, memang nilai mark up. Penilaian terhadap aset Salim ini berangkat dari asumsi bahwa kondisi ekonomi dan politik akan segera membaik. Belakang menurut Pricewaterhouse Cooper FAS (PwC) yang disewa BPPN , aset Salim yang diserahkan Salim mengalami penurunan nilai sebesar Rp 29,5 triliun. Sialnya, dalam asset setllemen yang diperjanjikan di MSAA, bila terjadi penurunan nilai aset sampai saat penjualannya, maka itu menjadi tanggung jawab BPPN. Dus, tentu negaralah yang akhirnya menanggung selisih itu. Pada akhirnya dana tunai yang berhasil di kumpulkan BPPN dari utang Salim tak lebih Rp Rp 19,38 triliun.

Apa artinya? Satu hal, recovery rate Salim hanya 36,77 persen. Cilakanya, hanya dengan 36,77 persen saja Salim kemudian lenggang kangkung, karena dia menganthongi Surat Keterangan Lunas (SKL) dari BPPN. Lebih cilaka lagi, SKL itu juga merupakan release and discharge (R&D) yang merupakan pembebasan dari tuntutan hukum. Dan ajaib, perlindungan hukum terhadap maling itu kemudian dikuatkan dengan Instruksi Presiden NO 8 tahun 2002 yang diteken oleh Megawati plus restu daro Senayan.

Bagaimana dengan obligor yang lain? Setali tiga uang. Obligornya maling, pemerintahnya memble, dan yang paling penting, BPPNnya brengsek. Tak percaya? Recovery rate BPPN hanya 28 persen, bandingkan dengan negeri jiran, KAMCO (BPPN-nya Korea) recovery ratenya 49 persen, TAMC (Thailand) sebesar 35 persen.

Tentu saja, setelah kenyang merampok, mereka memilih kabur keluar negeri. Syamsul, Nursalim, sampai Sudrajad Djiwandono (gubernur BI) memilih tinggal nyaman di Singapura. Sialnya lagi, mereka kemudian disambut bak tamu agung pulang kampung. Tak kurang SBY sendiri, menggelarkan karpet merah untuk para maling itu.

Ah, baru sepuluh tahun dan ternyata kita melupakan terlalu cepat. Melupakan kita sering sangat rela bunuh-membunuh di jalanan untuk uang seceng-noceng tetapi di membiarkan triliunan (bisakah kau bayangkan berapa tingginya bila uang itu ditumpuk di monas dalam pecahan seribu perak) menguap begitu saja? Sementara para malingnya tetap ongkang-ongkang menikmati hari tuanya, dan kita tiap hari terus bertarung dengan kejamnya harga-harga yang terus melangit?

Tuesday, July 10, 2007

Benalu

Tuan...
Apakah rasa lapar berarti sesuatu bagimu?
Ketika cacing perut merintih lalu tak sabar dan mulai berteriak memaki senyatanya toh mereka tak bisa dikenyangkan dengan sekedar angka yang tuan sampaikan. Lapar itu nyata tuan, pedih juga perihnya.
Rasanya memang menyakitkan, tetapi kami toh tetap bertahan bukan? Ya, itu karena kami selalu berhasil membujuk agar sang lapar tak membunuh dan memata-gelapkan kami. Betul, walau kami berteman karib dengan sang lapar, bukan berarti kami benar-benar menyukainya. Kami membencinya. Ya, sungguh-sungguh membencinya. Seperti juga kami membenci tuan-tuan yang menguras habis setiap sawah dan setiap kebun kami.
Mungkin bila tuan siuman dan mengembalikan kesuburan sawah dan kebun kami, kami akan berbaik hati sedikit memafkan tuan. Memaafkan dan mungkin sedikit janji untuk tidak merampok tuan, setiap kali ada sekecil apapun kesempatan itu.
Ah, sebenarnya kami menunggu saat itu tuan. Saat dimana lapar kami tak tertahankan sementara bayi-bayi kami menjerit kehabisan susu merisaukan kami. Bisa apa kami, selain masuk kerumah-rumah tuan dan mengambil apapun yang bisa kami makan dan sekedar bayi kami terhentikan tangisnya.
Tuan bilang kami pemalas. Ah, bukan. Kami bukan pemalas tuan, kamilah yang bangun beserta terbitnya fajar dan mulai membangun dari mulai Borobudur sampai Monas. Kami jugalah yang membangun dan menggerakan negeri dari ketertiduran dan mengisinya dengan mata binar menatap esok.

Tuanlah yang pemalas dan merampok hasil kerja kami, kami tebang belantara dan bangun kampung, tetapi tuanlah yang kemudian menggusur kami dan membangun swalayan. Kamilah yang membendung laut dan membongkar tanah sementara tuan-tuanlah yang kemudian menyemburkan lumpur diwajah, pekarangan dan rumah kami. Dan kami hanya bisa mengadu pada patung yang bisu.

Tuan...
Apakah air mata berarti sesuatu bagimu? Ketika kebodohan dan kemiskinan memang di ciptakan dan dilestarikan oleh kalian untuk menghidupi simpanan-simpanan kalian. Pernahkah Tuan rasakan pusingnya ketika istri menatap sayu sementara beras di daringan tak bersisa dan satu-satunya pilihan yang tersedia untuk hidup hanyalah mencuri?
Terbayangkah di angan kalian gang-gang becek yang menjebak kami dan membuat tak bisa beranjak. Ah, sebenarnya kami bodoh bila berharap kalian rasakan yang kami rasakan. Kalianlah yang hidup membenalu dari kerja keras kami, dan kalian-kalian jugalah yang menjadi lintah serta menyedot habis darah kami.

Monday, July 9, 2007

Alta...

"nec curia deficeret in justitia exhibenda”

"Tengadahlah pada langit, teriaklah pada matahari dan jeritkan tangis pada rembulan," bisik seekor burung hantu pada lelaki separuh baya lewat yang menggenggam pedih ditangan kanannya.

Aku membayangkan lelaki itu jongkok disana, mengambil segenggam tanah kubur tak bernama itu dan dengan teriakan keras melemparnya keangkasa. Ah, mengatakan kubur itu tak bernama mungkin tak sepenuhnya tepat, karena di nisannya masih tertulis sebait nama ; Alta Lakoro.

Ya, Alta Lakoro, sebuah nama yang bertahun-tahun lalu hanya diingat sebagai sebuah kerangka diam yang terkuburkan tiba-tiba menjadi sosok yang utuh kembali. Betul-betul bernyawa dan hidup lagi, sementara kematiannya menyisakan cerita pedih dan ketololan.

(Warga Desa Modelomo dan Mohungo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Rabu (27/6), digemparkan dengan kehadiran korban pembunuhan di Desa Huata, Dulupi, tahun 2002 lalu. Korban yang belakangan diketahui bernama Alta Lakoro itu, ternyata selama ini hanya menghilang dan hidup diluar daerah yang belum diketahui pasti alamatnya. Sementara, orang tuanya yang divonis membunuh Alta sudah menjalani hukuman penjara 3,5 tahun)

Ya, begitulah hukum bekerja melayani penguasannya. Dan Risman Lakoro lelaki itu, orang tua Alta. Bukan siapa-siapa dan pasti tak berpunya, mendapati dirinya dalam belenggu kejam brengseknya benalu aparatus negara. Jerit paraunya mungkin telah habis bertahun-tahun lalu ketika dia menolak mengaku sebagai pembunuh anaknya.Lalu mereka, orang-orang berseragam itu menjepitnya tubuhnya dengan kursi dan menarik kedua tangan yang dihimpitkan ke besi jeruji dan menariknya keluar. Bertahun-tahun kemudian jari-jari tangannya membeku dan tak bisa lagi diluruskan maupun dikepalkan. Ya, jari kelingkingnya patah-patah terjepit daun pintu.

Seorang wanita tak bernama berdiri di ujung perempatan yang mulai menua. Menua oleh senja dan kebingunganannya. Mulutnya, sesekali menyunggingkan senyum, sesekali seringai dan sesekali lainnya bibirnya membentuk sebuah tangisan pedih. Begitulah dia selalu menghabiskan malam-malamnya. Matanya yang tertutup kain hitam merembeskan air mata walau ditangannya sebilah pedang dan neraca.

Ya, sebilah pedang untuk memacung dan neraca sebagai “setiap orang sesuai dengan haknya”

Tetapi aneh, sekali ini ada hal luar biasa yang jarang Ia lakukan. Ia berdialog, mendesah-desah lalu merintih. Wajahnya serius dengan mata yang tajam, bibirnya mengatup, bahkan saking mengatupnya paras itu seolah menjadi sebentuk arca yang bisu. Ya, dia sedang berdialog sengit dengan bayangan ular yang menjalar di sepanjang kakinya.

Sebuah dialog yang lupa di selesaikan para ahlinya sejak ratusan tahun lalu. Para pendeta, ulama dan bangsawan karena terlalu sibuknya membenalukan dirinya pada raja, melupakan satu hal. Ya, lupa pada dirinya sendiri, keadilan.

Wanita itu, kembali menunjuk-nunjuk angkasa. Sesekali berikutnya dia menunjuk dadanya sendiri. Sayangnya ditanah ini wanita itu bukanlah Justitia. Disini wanita itu lebih mirip Durga, dari Pastreangandamayit. Yang selalu, tak pernah merasa cukup dengan Sum Kuning, Sengkon-Karta, Marsinah, Udin dan ribuan tak bernama lainnya yang selalu menjadi tumbal. Risman Lakoro, bukanlah nama. Dia bisa siapa saja. Aku , kamu, kita, kalian dan seluruh remah-remah dinegeri ini.

Ah, siapa bilang kita punya “nec curia deficeret in justitia exhibenda” ? (pengadilan adalah istana di mana Dewi Keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti)

Tuesday, July 3, 2007

Tentara Rakyat

"Siapa mereka!!"
"Biasa, tentara langit"
"Siapa namanya?"
"Ah, mereka kan hanya sekrup-sekrup, mana ada sekrup punya nama"
"Lalu siapa yang punya nama"
"Yang punya nama tentu mesinnya"
"Lalu siapa mesinnya"
"Ah, itu tanya saja di Cilangkap sana"

Sepenggal obrolan itu meruap entah kemana, aneh juga kalau di pikir, masa obrolan yang bisa meruap? Tetapi justru itu indahnya, obrolan di setiap pematang dan perempatan bisa berarti apa saja. Pembunuhan, makar atau justru rencana menembaki rakyat.
"Ah, menembak rakyat? Mana mungkin, mana ada tentara yang lahir dan di besarkan rakyat tega memakan bapak ibunya sendiri. Itu masa lalu, masa-masa dimana gelap sejarah hanya berisi hantu dan mahluk jadi-jadian"
"Lho, bukannya kita ada di masa lalu?"