Drama Tengah Malam
Pagi yang cerah ketika langit Maguwo dipenuhi dengan titik-titik hitam di angkasa. Ya, titik-titik itu adalah pasukan payung yang Belanda diterjunkan di Yogyakarta. Sesiang kemudian Jogja jatuh dan republik runtuh, Sukarno-Hatta tertawan, Sudirman lari kehutan. Dan hari bergerak pelan berlalu dengan paranoianya.
Sementara di ujungnya, malam lambat bergerak ke arah habisnya, tepat di 19 Desember 1948. Gerimis dan dingin di pinggir hutan Ngaliyan, kelurahan Lalung, Kabupaten Karanganyar, Keresidenan Surakarta.
Belasan lelaki tampak berdiri dalam senyap dan bisu menyaksikan beberapa orang yang sedang sibuk menggali sebuah lubang besar. Sambil menunggu lubang selesai di gali, seorang lelaki berpiyama putih bergaris biru bertanya pada seorang Letnan Polisi Militer, “Saya mau diapakan ?" “Saya tentara, tunduk perintah, disiplin.”
Waktu mengalir lambat dan patah-patah disetiap detiknya. Selesai lubang digali, orang-orang yang menggali disuruh pergi dan yang tinggal hanya 4 orang, untuk menguruk lubang itu kembali.
Letnan tampil dengan suara keras membacakan surat perintah Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto. Suaranya membahana dalam kesenyapan, mengagetkan burung-burung dan binatang malam. Usai surat dibaca hening mencekam menggiriskan. Dingin menggenggam tengkuk, sementara malam takluk pada kehendak.
Hening pecah menyemburatkan keping-kepingnya ketika lelaki berpiyama kembali bertanya pada sang letnan “Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan-kawan saya ?”
“Saya tinggal tunduk perintah.”
“Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih?”
“Tidak usah banyak bicara”
Lelaki lainnya menyela, “Saya tidak menyalahkan saudara, tetapi dengan ini negara rugi.”
Sang Letnan menjawab dengan perintah pada anak buahnya agar mengisi bedilnya. Lelaki berpiyama kembali menghampiri sang Letnan, langkahnya terpeleset sedikit. Sambil menepuk badan si Letnan ia berkata: “Beri kami waktu untuk bernyanyi sebentar.”
“Boleh, tapi cepat-cepat!”
Sebuah suara kembali menyela, “Apa saya boleh mengirimkan surat untuk isteri saya, biar ia tahu.”
“Ya tidak keberatan.” Jawab sang Letnan tegas.
Bersebelas, surat-surat kemudian di tulis, dan diserahkan satu-satu pada sang Letnan.Sesudah surat diserahkan, Indonesia Raya dan Internasionale berderap di pinggir hutan yang bergerimis itu. Suaranya lantang membelah tengah malam.
Setelah selesai bernyanyi lelaki berpiyama berseru:“Bersatulah kaum buruh seluruh dunia ! Aku mati untukmu !”
Seorang kawan menyambut, “Saya bela dengan jiwa saya, aku untukmu!”
Hanya sunyi kemudian meraja. Sekali terdengar letupan pistol didekat kepala untuk lelaki berpiyama, kemudian senapan meletup untuk lelaki berjas coklat bercelana putih panjang, sekali untuk lelaki berbaju kaos dan bersarung, sekali untuk lelaki bercelana putih berkemeja putih dan berjas putih yang sudah kotor.
Senapan menyalak lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi dan lagi.
Bersebelas rebah. Hanya Indonesia Raya dan Internasionale lamat-lamat masih kudengar kini dan disini.
Setting ; Hutan Ngaliyan kelurahan Lalung, Kabupaten Karanganyar, Keresidenan Surakarta
Para Pemain, Letnan Polisi Militer : Hanya Sekrup tak perlu nama, dibelakangnya Gubernur Militer Gathot Subroto yang komunis phobia
Lelaki berpiyama : Amir Syarifudin
Lelaki berjas coklat bercelana putih panjang : Maruto Darusman
Lelaki berbaju kaos dan bersarung: Suripno
Lelaki bercelana putih berkemeja putih dan berjas putih yang sudah kotor :Oey Gee Hwat Lelaki lainnya : Sardjono, Harjono, Sukarno, Djokosujono, Katamhadi, Ronomarsono dan D.Mangku.
Sutradara : Rapat kabinet tanggal 18 Desember 1948. Rapat itu membicarakan tindakan yang akan diambil terhadap pemimpin-pemimpin PKI jika Belanda mengadakan agresi militernya. Hadir pada waktu itu hanya 12 orang Menteri. Empat Menteri menghendaki agar Amir Sjarifoeddin dan kawan-kawanya ditembak mati; empat orang lagi berpendapat supaya Amir Sjarifoeddin dan kawan-kawanya dibebaskan (jangan ditembak); empat orang lainnya tidak memberikan suara. Presiden Sukarno dengan vetonya, bahwa Amir dan kawan-kawannya tidak boleh ditembak.
Producer : “the policy of containment” yang dilancarkan Amerika Serikat untuk membendung komunis di Asia Tenggara.