Tuesday, May 15, 2007

Banjir Modal, Kok Takut Krisis?

Dalam lawatannya ke Jepang, Sri Mulyani tiba-tiba bergumam tentang bencana krisis yang mungkin menghadang. Bu Ani menyinggung bahwa Menteri Keuangan di negara-negara Asia mengkhawatirkan akan terulangnya krisis ekonomi 1997 kepada negara-negara Asia di tahun 2007 ini. Indikasinya adalah masuknya aliran modal dalam jumlah besar ke negara-negara Asia.
Maka sebagai langkah antisipasi mereka menyepakati menghimpun cadangan devisa bersama untuk memperkuat pertahanan moneter di masing-masing negara.
"Kami dengan suara bulat sepakat secara prinsip untuk menyiapkan suatu cadangan devisa yang tetap bisa dikelola secara mandiri (oleh masing-masing negara) dan merupakan perjanjian kontrak tunggal dari bentuk kerjasama multilateral," kata Menteri Keuangan Thailand yang bertindak sebagi juru bicara Asean +3 itu.
Indonesia, dalam pandangan mereka adalah negara dengan kondisi perekonomian yang paling 'cemen', kemudian Vietnam dan Thailand. Dengan kondisi itulah mereka memutuskan 'memback-up' cadangan devisa Indonesia yang hanya sak'uprit' itu (US$ 49 miliar). Jangan sampai nantinya, bila badai itu benar datang ke Indonesia, Indonesia KO (dan pasti KO) krisis tersebut akan menular ke negara lain dan menjadikannya bencana regional. Seperti batu yang dilemparkan di kolam paranoia, kegundahan bu Ani lansung di sambar elang-elang dipasar menjadikan gelombang yang berkepanjangan.
Ketika gelombang terlanjur tercipta, banyak yang langsung gerah. Belakangan dagelan di gelar, Budiono, bu Ani dan punggawa-punggawa keuangan di panggil JK untuk mendengarkan kuliah gratisnya. Sekeluarnya dari istana JK, Budiono langsung memamerkan keahlian "ngeles-nya". "Fundamental ekonomi kita lebih kuat, pengalaman tahun '97 semoga tidak terulang" ujarnya enteng.
“Kita lihat pertumbuhan ekonomi 5,7-5,9 persen bukan sebuah kemustahilan di Kwartal pertama. Kwartal kedua bahkan lebih bergairah. Ini sesuatu yang bisa menunjukkan bahwa krisis yang dikhawatirkan itu jauh panggang dari api,” katanya.
Bu Ani pun tak kalah sigapnya bersilat lidah mengklarifikasi. Ia mengatakan membanjirnya arus modal masuk ke Asia saat ini menimbulkan situasi yang mirip dengan kejadian sebelum krisis sepuluh tahun lalu. “Jadi pembicaraan saya harus dilihat dalam konteks regional, bukan Indonesia,” ujarnya, tentu saja sambil memegangi telinganya yang memerah kena jewer JK.
Ini dagelan apa lagi ? Benarkah banjir modal menghadapkan kita kembali di ambang krisis ekonomi jilid 2?
Suatu "hil yang mustahal" dapat diterima awam. Bagaimana tidak, rakyat belum sempat menikmati perbaikan setelah ancur-ancuran sejak krisis 97, kita kembali di ingatkan untuk waspada.
Oke mari kita tengok satu-satu. Celengan devisa pemerintah di Bank Indonesia (BI) berada di level US$ 49 miliar. Dan melihat trendnya, bukan hal mustahil bisa mencapai US$ 55 miliar di akhir tahun, lebih tinggi US$ 5 miliar dari target APBN 2007.
Pertanyaannya, seberapa kuat fundemental makro ekonomi Indonesia mampu menahan serbuan spekulan yang mengakibatkan arus modal bergerak menjadi negatif. Hitungan ini penting, mengingat arus modal yang selama ini masuk ke Indonesia kebanyakan dalam bentuk investasi portofolio (saham dan obligasi) yang tentu saja berdasar sifatnya modal itu easy come, easy go.
Chatib Basri seolah tak ingin ketinggalan dalam koor van pejambon belankangan ini sibuk komentar dimana-mana, menurutnya saat ini aliran modal asing belum mencapai puncaknya karena modal global tak lagi memiliki tempat investasi yang lebih menguntungkan selain Indonesia.
Chatib benar, sesuai data BI per 10 Mei kepemilikan asing pada SBI Rp 47 triliun (17 % dari total), SUN Rp 77 triliun (17,5 % dari total) dan untuk saham pada bulan April saja terjadi pembelian oleh asing sebesar Rp 5,67 triliun. Yang dilupakan Chatib adalah bagaimana bila modal itu tiba-tiba memilih easy go? Cadangan devisa akan lansung kempis untuk nambal, dan angin yang tadinya hanya sepoi-sepoi bisa saja menjadi badai besar. Dan bisa saja seperti 97 dari sekedar krisis eknomomi biasa bertriwikrama karena terlambat ditangani berubah menjadi depresi dengan skala penuh. Ya, waktu itu para pejabat koornya juga sama, "Fundamental ekonomi kuat, pertumbuhan bagus, krisis tak akan datang...etc, etc dan etc." Nyatanya?
Memang benar krisis tidak datang semudah itu, tetapi jangan salah pemodal itu adalah para pencari rente yang tabu melihat potensi modal mereka berkurang (rugi) apalagi hangus.
Ini yang selalu dilupakan, mestinya kita berangsur-angsur keluar dari perangkap yang kita ciptakan sendiri -tergantung terhadap arus modal jangka pendek- dengan instrumen suku bunga sebagai iming-iming untuk mengundang investor.
Sejak krisis 97-an melanda baru pada 2005 arus modal positif. Yang artinya modal datang lebih besar dibanding modal yang pergi. Bagus ? Eit... nanti dulu, fakta itu jangan ditelan mentah karena harus dicermati apakah investasi asing langsung (FDI) ikut meningkat seiring arus modal yang positif tersebut, atau justru justru malah ngacir ke Vietnam atau Thailand.Wakakak.. melihat angka pengangguran yang masih 12,7 juta orang dan penduduk miskin yang mencapai 45,7 juta kita mau tak mau berkesimpulan sektor riil jalan di tempat tho?
Jadi memang akhirnya mau tidak mau saya mesti bersepakat dengan mereka. Krisis itu tak mungkin datang lagi sekarang. Ya, karena sebenarnya krisis itu tak pernah pergi tho?

Sunday, May 13, 2007

Orang-Orang Berpayung

"Kalau bukan kami, para ibu, siapa lagi yang mau peduli pada nasib anak-anak kami. Pasang surut itu ada dan kadang-kadang lilin semangat itu mau padam saja rasanya. Tetapi apakah kami harus diam?"ujar Sumiarsih,ibu dari Bernadus Irmawan, mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Atma Jaya, yang tewas tertembus peluru dalam tragedi Semanggi. Sumiarsih nyaris menghabiskan sembilan tahun terakhir kehidupannya untuk menempuh jalan panjang penegakan HAM di negeri ini.
Ya, di negeri pelupa ini memang harus ada orang-orang seperti Sumiarsih. Yang setiap kamis rela berdiri melawan panas atau hujan untuk terus mengingatkan. Tetapi apakah kita harus kehilangan anak atau saudara terlebih dulu hingga kita tergerak untuk berdiri bersama Sumiarsih setiap Kamis.
Acara Kamisan seberang istana negara disini memang mengadopsi gerakan serupa di luar negeri. Ibu-ibu di Brasil menuntut pengusutan atas kematian anak-anak mereka saat junta militer berkuasa di sana tahun 1979-1983. Setiap Kamis mereka berdemontrasi di Plaza de Mayo, Buenos Aires.
Orang seperti Sumiarsih di negeri ini seperti pasir di gurun. Tak berbilang angka, ibu-ibu yang anak terkasihnya di renggut dari timangan. Dan tak terhitung istri yang meratap ketika tiba-tiba suaminya hilang atau mati.
Tak terasa sembilan tahun sudah. Sembilan tahun yang panjang untuk menjadikan semua perubahan dan ongkosnya menguap menjadi kentut yang nyaring. Semua darah, semua keringat dan semua pertentangan sekarang nyaris didamaikan dalam obrolan-obrolan setengah kamar. Ribuan yang mati menjadi sampah. Ribuan yang luka menjadi saksi. Ribuan yang berteriak menjadi penguasa.
Apa yang kita kenangkan dari bulan ini sembilan tahun lalu. Tak ada! Bagi bangsa yang bebal dan culun ini perjalanan dan pengalaman apapun tak bakal merubah apapun. Budaya yang dibangun atas pameran ketakutan-ketakutan, mensyaratkan persembahan darah dan airmata rakyatnya. Hanya akan menciptakan penguasa-penguasa coro dan bermental katrok yang akan membebankan biaya pada orang-orang seperti Sumiarsih, Marsinah, Suciwati dan siapapun nantinya.