Monday, July 9, 2007

Alta...

"nec curia deficeret in justitia exhibenda”

"Tengadahlah pada langit, teriaklah pada matahari dan jeritkan tangis pada rembulan," bisik seekor burung hantu pada lelaki separuh baya lewat yang menggenggam pedih ditangan kanannya.

Aku membayangkan lelaki itu jongkok disana, mengambil segenggam tanah kubur tak bernama itu dan dengan teriakan keras melemparnya keangkasa. Ah, mengatakan kubur itu tak bernama mungkin tak sepenuhnya tepat, karena di nisannya masih tertulis sebait nama ; Alta Lakoro.

Ya, Alta Lakoro, sebuah nama yang bertahun-tahun lalu hanya diingat sebagai sebuah kerangka diam yang terkuburkan tiba-tiba menjadi sosok yang utuh kembali. Betul-betul bernyawa dan hidup lagi, sementara kematiannya menyisakan cerita pedih dan ketololan.

(Warga Desa Modelomo dan Mohungo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Rabu (27/6), digemparkan dengan kehadiran korban pembunuhan di Desa Huata, Dulupi, tahun 2002 lalu. Korban yang belakangan diketahui bernama Alta Lakoro itu, ternyata selama ini hanya menghilang dan hidup diluar daerah yang belum diketahui pasti alamatnya. Sementara, orang tuanya yang divonis membunuh Alta sudah menjalani hukuman penjara 3,5 tahun)

Ya, begitulah hukum bekerja melayani penguasannya. Dan Risman Lakoro lelaki itu, orang tua Alta. Bukan siapa-siapa dan pasti tak berpunya, mendapati dirinya dalam belenggu kejam brengseknya benalu aparatus negara. Jerit paraunya mungkin telah habis bertahun-tahun lalu ketika dia menolak mengaku sebagai pembunuh anaknya.Lalu mereka, orang-orang berseragam itu menjepitnya tubuhnya dengan kursi dan menarik kedua tangan yang dihimpitkan ke besi jeruji dan menariknya keluar. Bertahun-tahun kemudian jari-jari tangannya membeku dan tak bisa lagi diluruskan maupun dikepalkan. Ya, jari kelingkingnya patah-patah terjepit daun pintu.

Seorang wanita tak bernama berdiri di ujung perempatan yang mulai menua. Menua oleh senja dan kebingunganannya. Mulutnya, sesekali menyunggingkan senyum, sesekali seringai dan sesekali lainnya bibirnya membentuk sebuah tangisan pedih. Begitulah dia selalu menghabiskan malam-malamnya. Matanya yang tertutup kain hitam merembeskan air mata walau ditangannya sebilah pedang dan neraca.

Ya, sebilah pedang untuk memacung dan neraca sebagai “setiap orang sesuai dengan haknya”

Tetapi aneh, sekali ini ada hal luar biasa yang jarang Ia lakukan. Ia berdialog, mendesah-desah lalu merintih. Wajahnya serius dengan mata yang tajam, bibirnya mengatup, bahkan saking mengatupnya paras itu seolah menjadi sebentuk arca yang bisu. Ya, dia sedang berdialog sengit dengan bayangan ular yang menjalar di sepanjang kakinya.

Sebuah dialog yang lupa di selesaikan para ahlinya sejak ratusan tahun lalu. Para pendeta, ulama dan bangsawan karena terlalu sibuknya membenalukan dirinya pada raja, melupakan satu hal. Ya, lupa pada dirinya sendiri, keadilan.

Wanita itu, kembali menunjuk-nunjuk angkasa. Sesekali berikutnya dia menunjuk dadanya sendiri. Sayangnya ditanah ini wanita itu bukanlah Justitia. Disini wanita itu lebih mirip Durga, dari Pastreangandamayit. Yang selalu, tak pernah merasa cukup dengan Sum Kuning, Sengkon-Karta, Marsinah, Udin dan ribuan tak bernama lainnya yang selalu menjadi tumbal. Risman Lakoro, bukanlah nama. Dia bisa siapa saja. Aku , kamu, kita, kalian dan seluruh remah-remah dinegeri ini.

Ah, siapa bilang kita punya “nec curia deficeret in justitia exhibenda” ? (pengadilan adalah istana di mana Dewi Keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti)