Orang-Orang Berpayung
"Kalau bukan kami, para ibu, siapa lagi yang mau peduli pada nasib anak-anak kami. Pasang surut itu ada dan kadang-kadang lilin semangat itu mau padam saja rasanya. Tetapi apakah kami harus diam?"ujar Sumiarsih,ibu dari Bernadus Irmawan, mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Atma Jaya, yang tewas tertembus peluru dalam tragedi Semanggi. Sumiarsih nyaris menghabiskan sembilan tahun terakhir kehidupannya untuk menempuh jalan panjang penegakan HAM di negeri ini.
Ya, di negeri pelupa ini memang harus ada orang-orang seperti Sumiarsih. Yang setiap kamis rela berdiri melawan panas atau hujan untuk terus mengingatkan. Tetapi apakah kita harus kehilangan anak atau saudara terlebih dulu hingga kita tergerak untuk berdiri bersama Sumiarsih setiap Kamis.
Acara Kamisan seberang istana negara disini memang mengadopsi gerakan serupa di luar negeri. Ibu-ibu di Brasil menuntut pengusutan atas kematian anak-anak mereka saat junta militer berkuasa di sana tahun 1979-1983. Setiap Kamis mereka berdemontrasi di Plaza de Mayo, Buenos Aires.
Orang seperti Sumiarsih di negeri ini seperti pasir di gurun. Tak berbilang angka, ibu-ibu yang anak terkasihnya di renggut dari timangan. Dan tak terhitung istri yang meratap ketika tiba-tiba suaminya hilang atau mati.
Tak terasa sembilan tahun sudah. Sembilan tahun yang panjang untuk menjadikan semua perubahan dan ongkosnya menguap menjadi kentut yang nyaring. Semua darah, semua keringat dan semua pertentangan sekarang nyaris didamaikan dalam obrolan-obrolan setengah kamar. Ribuan yang mati menjadi sampah. Ribuan yang luka menjadi saksi. Ribuan yang berteriak menjadi penguasa.
Apa yang kita kenangkan dari bulan ini sembilan tahun lalu. Tak ada! Bagi bangsa yang bebal dan culun ini perjalanan dan pengalaman apapun tak bakal merubah apapun. Budaya yang dibangun atas pameran ketakutan-ketakutan, mensyaratkan persembahan darah dan airmata rakyatnya. Hanya akan menciptakan penguasa-penguasa coro dan bermental katrok yang akan membebankan biaya pada orang-orang seperti Sumiarsih, Marsinah, Suciwati dan siapapun nantinya.